Friday, November 13, 2009

Pahlawan Biru

Keletak! Keletuk!
Pahlawan biru
Beradu pencak
Melakar mimpi
Di hampar bisu
Yang dihunusnya
Bukan pedang
Yang dihamburnya
Bukan garang
... cuma kasih sayang

Keletak! Keletuk!
Pahlawan biru
Berdendang rentak
Mencarik rasa
Di bidang beku
Yang diterjahnya
Bukan jantung mu
Yang digamitnya
Bukan benci mu
... hanya rindu

Keletak! Keletuk!
Keletak! Keletuk!

Keletak! Keletuk!

Pahlawan biru
Beradu pencak berdendang rentak
Dari hatinya
Ke jiwa mu


Biskutz Rangup | Friday, November 13, 2009

Read more...

Thursday, November 12, 2009

B.O.S.A.N

Sunyi? Bosan...
Bising? Bosan...
Rindu? Bosan...
Ke kiri... bosan...
Ke kanan... bosan...
Berhenti! Berhenti!
Untuk apa?
Katanya... berhentilah dari bosan
Kata ku... cukuplah minta begitu
Aku bosan...


Biskutz Rangup | Thursday, November 12, 2009

Read more...

Wednesday, November 11, 2009

Aku Rindu

Ku lihat langit
Ku fikir kamu
... aku rindu

Ku lihat awan
Ku harap kamu
... aku rindu

Ku lihat bulan
Ku mimpi kamu
... aku rindu

Ku lihat bintang
Ku ingat kamu
... aku rindu

Ku gamit langit
Ku lambai awan
Ku seru bulan
Ku pinta bintang
Bawa rindu ku kepada mu

Biskutz Rangup | Wednesday, November 11, 2009

Read more...

Tuesday, November 10, 2009

Bulan Jatuh Ke Riba

Kala bulan jatuh ke riba
Bintang-bintang menangis hiba
Langit malam berwajah duka
Sepoi angin berhenti bersuara
Hilang adinda
Hilang kekanda

Kala bulan jatuh ke riba
Unggas-unggas rebah melata
Pohon resah bersulam hampa
Pungguk derita jiwa terluka
Rindu adinda
Rindu kekanda

... dan manusia terus alpa
... ketawa megah dalam dada

... bermadah seloka

... menjunjung pujangga


Mengharap bulan jatuh ke riba


Biskutz Rangup | Tuesday, November 10, 2009

Read more...

Monday, November 9, 2009

Di mana?

Malam ini
Bayu berbisik
Tentang lagu rindu
Tentang kisah pilu
Rungkai syahdu
Bergelodak menjadi
Bintang seni
Di hati ku
Di sana itu... kamu
Namun... di mana aku?


Malam ini
Awan menangis
Mencurah resah kalbu
Mencurah remuk sayu
Lerai lebur
Bertaburan menjadi
Embun dingin
Di jiwa ku
Di sana itu... kamu
Namun... di mana aku?


Jika...
Yang ku lihat itu... hanya kamu
Yang ku gapai itu... hanya kamu
Yang ku dengar itu... hanya tangis ku
Luruh di perjalanan waktu
Lantas di mana... aku?



Biskutz Rangup | Monday, November 09, 2009

Read more...

Sunday, November 8, 2009

Yang Ku Petik

Yang ku petik itu
Adalah bintang-bintang dari hati ku
Lalu ku kalung ke jiwa mu
Agar tumbuh cahaya di situ
Bisa mengindahkan
Tanpa kau sedar
Aku tersungkur
Tersadung di perjalanan

Yang ku petik itu
Adalah purnama tinggi di langit
Lalu ku hias ke jiwa mu
Agar suramnya bercahaya
Bisa terbias rona
Tanpa kau sedar
Aku tergawang
Terikat tanpa tali

Yang ku petik itu
Adalah sinar pagi dari hati ku
Lalu ku sisip ke jiwa mu
Agar bercambah rasa di situ
Bisa menghangatkan
Tanpa kau sedar
Aku kesejukan
Membeku di pengharapan

Yang ku petik itu... adalah hati ku
Lalu ku hulur ke tangan mu
Tidak kau gapai
Lalu gugur hancur berkecai...


Biskutz Rangup | Ahad, November 08, 2009

Read more...

Friday, November 6, 2009

Jelaga Kepenatan

Jelaga-jelaga lelah
Pada catan rasa
Berkerincing gemersik
Seakan mengejek
Kering kolam hati
Yang suaranya hanya kelu
Mahu saja ku lontar jeritan itu
Kepada mu
Namun ia tersungkur di hujung kaki ku
... mati kepenatan
... mati tak bernisan


Jelaga-jelaga lelah
Pada ragu di hati
Berdenting gemuruh
Seakan mentertawa
Gersang lubuk jiwa
Yang tangisnya hanya bisu
Ingin saja ku curah airmata itu
Ke telapak hati mu
Namun ia terlerai berdedai jatuh
... mati kepenatan
... mati ketandusan

... mati kekeringan

... sebelum kau tahu



Biskutz Rangup | Jumaat, November 06, 2009

Read more...

Wednesday, November 4, 2009

Matahari

Jika malam pekat begini
Bulan kembali merajuk diri
Bintang pula menjauhi
Hembus bayu galak berlagu
Dan dingin singgah ke hati mu...

Ingin saja ku petik matahari

Bergantungan kembali
Agar bulan bisa bercahaya
Bintang bisa menari
Seiring melodi si bayu
Dan dingin tidak membeku
Menjadi salju di hati mu...

Jika malam pekat begini
Langit bagai gergasi hitam
Awan-awan menyorok diri
Rintik hujan menangis kembali
Dan basahnya luruh ke hati mu

Ingin saja ku petik matahari

Membakar kembali
Agar langit gergasi bisa bercahaya
Awan-awan bercorak rona
Rintik hujan berhenti menangis
Dan basah hati mu bisa tersenyum

Ingin saja ku petik matahari

Agar cengkerik bisa bernyanyi
Mengisi tidur malam mu
Dan aku bisa tersenyum
Mengisi jaga malam ku


Biskutz Rangup | Rabu, November 04, 2009

Read more...

Sunday, November 1, 2009

Hujan November

Kala hujan November
Jatuh berdedaian
Langit-langit malam kesunyian
Tanpa bintang berlenggok tari
Awan-awan berwajah hitam
Menunggu gelodak berserak
Lantas di mana aku?
Lantas di mana kamu?
Jauh dari hati
Jauh dari rindu
Tik Tik Tik
Gugur satu-persatu
Apa yang tinggal?
Yang ada hanya sendu
Yang hadir hanya pilu

Kala hujan November
Melakar tangis di bumi
Purnama tidak menampak diri
Si pungguk sepi remuk di hati
Embun merintih mencari diri
Mana pohon ingin disinggahi
Lalu ke mana aku?
Lalu ke mana kamu?
Sepi tanpa suara
Sepi tanpa bicara
Tik Tik Tik
Hujan masih berlagu
November seakan biru
Apa yang ada?
Hanya kocak rasa yang bisu
Tumpah mencari diri mu…


Biskutz Rangup | Ahad, November 01, 2009

Read more...

Saturday, October 24, 2009

Embun Menangis

Menginjak jatuh luruh sinar pagi
Ku lihat dari tubir kamar
Kabus berolak duka
Dan embun menangis sendiri
Bukankah tangisnya yang semalam
Masih bersisa?
Masih ku ingat
Aku berkongsi hati bersamanya
Tentang duka dan lara
Tentang suka dan ria
Di mana jiwa bersatu
Dan dingin sentuhnya
Mengalas jejak ku
Namun sinar pagi terus galak menari
Dan embun menangis kembali
Lantas ku kata kan kepadanya...
"Embun, nanti aku kan kembali
Sinar pagi bukan membunuh mu

Ia hanya ingin kau kelihatan

Seperti pelangi... kemilau

Di bawah limpah cahayanya

Seperti pagi ini

Cantik berseri di penglihatan ku

Agar bila malam bertebar

Dan subuh mendayu

Kau masih ada ingatan

Tentang keindahan mu di hati ku

Jadikan ia bekal siang mu

Embun... jangan menangis

Nanti aku kan kembali"


Biskutz Rangup | Sabtu, October 24, 2009

Read more...

Wednesday, October 21, 2009

Senja semalam, fajar tadi.

Halus pasir lembut mengikut alun tapak kakimu yang kecil.

Berselang-seli ia terbentuk, begitu jua pukulan ombak.

Batu kukuh membulat besar kecil duduk bertimpuh.

Kamu lantas terduduk. Kamu lantaran menung fikir.

Deru bunyi angin menyapa cupingmu.

Sayu hati siapa lah tahu.

Kebisingan dan biadap adalah sejarah.

Luhur budi menyonteng awan, merah kelam ia.

Jalan kamu tadi agak lama, panjang dan penat.

Nafas dada beralun, hatimu tenang tiada riak.

Mata terarah pada cahaya, suramnya ia, jauh lagi jauh.

Mulutmu terkunci, pintu hati sudah lama terbuka.

Berbagai andai dan ragu terlepas keluar.

Pasrah datang mengganti diri.

Duduknya kamu itu terhala pada ia, indah permai alam sentosa.

Cahaya suria mulai pudar, seperti senja semalam.

Fajar tadi telah muncul, lembaran baru kan menyusul.



Kamu berjalan sunyi di atas dataran pantai pasir yang halus, putih berkilau.

Berbalam-balam kamu mulai menghilang.



Mohamad Farez Abdul Karim
5.38pm
2 Zulkaedah 1430H


Read more...

Rama-rama Di hati Ku

Rama-rama di hati ku
Telah terbang
Bawa bersamanya
Senyum dari rasa ku
Ria dari jiwa ku
Yang tinggal hanya bayangnya
Yang kekal hanya airmata ku
Tidak kelihatan
Namun banjir di kalbu

Rama-rama di hati ku
Telah berlalu
Bawa bersamanya
Tawa dari suara ku
Bahagia dari minda ku
Yang tinggal hanya tapaknya
Yang kekal hanya hitam rasa ku
Tidak tergambarkan
Namun parutnya berseliratan

Rama-rama di hati ku
Telah terbang dan berlalu
Yang tinggal hanya hati remuk ku
Tidak lagi wangi
Untuk indah sayapnya... berkibar
Yang tinggal hanya jiwa luluh ku
Tidak lagi putih
Untuk kaki cantiknya... bertenggek

Rama-rama di hatiku telah terbang dan berlalu...
Asyik membandiing indah dirinya berbanding kotor diri ku
Yang tinggal hanya senyum di bibir ku
Yang kekal hanya senyum yang palsu


Biskutz Rangup | Rabu, October 21, 2009

Read more...

Wednesday, September 9, 2009

Satu Pujangga

Apakah kisahnya tentang cinta Uda dan Dara...
Antara Laila dan Majnun...
Antara Romeo dan Juliet...
Satu pujangga lara?
Satu nestapa duka?
Atau mungkin saja omong kosong
Penyedap puitisnya rasa?

Mampukah manusia mengagungkan cinta...
Hingga nadi habis berdetik?
Tika nyawa putus di jentik?
Tegarkah sebidang jiwa utuh berpaut pada jujurnya rasa?

Adakah impi di hati bisa jadi, ya... ?
Seperti Uda syahdu bercanda untuk Daranya?
Fikir mereka...
Di situlah segala
Tiada akhirnya

Bisakah pula jadi si Majnun mati untuk si Laila?
Korban jiwa?
Korban rasa?
Korban nyawa?

Atau mungkin setegar kuatnya rasa Romeo demi Julietnya?
Sanggup pergi?
Sanggup kembali?
Sanggup mati?

Atau kita hanya terlena dalam pujangga lama
Sedangkan di sini...
Dunia baru ini bagaikan angin lalu

Dunia ini pentas
Bagi patung hidup... kau, aku... kita semua
Kitalah Uda
Kitalah Dara
Kitalah Laila
Kitalah Majnun
Kitalah Romeo
Kitalah Juliet
Lantas cuba kau tanya...

Bilakah kali terakhir si Uda
Berdendang tentang cinta untuk Daranya?
... dan si Dara kekal terpesona...
Bilakah pula tangis rintih si Majnun
Bergema nyatakan cintanya?
... dan si Laila pilu tak sudah...
Bilakah lagi racun dan darah mengalir
Mengisi sesal dan setia milik Romeo?
... dan Juliet terasa mati dalam hidup...

Nyatanya ia hanya pujangga lama penuh habuk dan rona
Ahh atau bisakah aku bangun berdiri dan berkata...

"Ya... tahukah kau aku bisa jadi segalanya?! Aku bisa!"

Akan adakah sinis?
Akan adakah banding?
Untuk sebuah pujangga
Di celah alpa dan sekujur rasa
Yang ingin ku kota

Pujangga bisa lapuk...
Pujangga bisa buruk...
Cinta pun bisa remuk
Jika tiada bujuk




Biskutz Rangup : Isnin, 13 November 2006

Read more...

Tuesday, September 8, 2009

kisah satu bintang

dulu bintang itu di dakap
sinari hatinya yang gelap
dulu bintang itu di gilap
silaui dunianya yang malap

kini si bintang sudah pergi
sembunyi di langit abadi
kerdipnya mencari yang suci
hati baru mahu dirai

- eskapisminda : 060909

Read more...

Monday, September 7, 2009

Bulan, Bintang, Matahari

Sering di kala siang menjelma
Tika sinar mentari menghulur cahaya
Kita terpana
Lantas berkata

"Kenapa panas sangat ni?"

Lalu Tuhan hadirkan awan
Menutup mentari
Hulurkan hujan
Agar lebih selesa

Bila malam menjelma
Tika sendiri menatap langit kelam
Cahaya bulan menerpa
Bintang-bintang mengerdipkan sinarnya
Kita terpana kembali...

"Lihat tu, cantiknya bulan dan bintang-bintang tu.
Kalau tak terlindung awan tentu lagi cantik."

Lantas Tuhan hadirkan angin
Menolak awan
Memberi nyaman

Sedangkan kita terus alpa
Bahawa bulan dan bintang
Sebenarnya tak pernah
Punya sinar mahupun cahaya...

Kita sering lupa
Bahawa mentarilah
Yang memberikan cahayanya
Agar kita bisa
Menikmati indahnya
Malam kelam pekat itu
Dan...
Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya

Akulah insan itu yang sering lupa.
Menginginkan lebih dari apa yang telah tersurat
Kerana fikirku...
Aku berhak di atas segala keinginan itu...




Biskutz Rangup : Sabtu, 5 Januari 2008

Read more...

Thursday, August 27, 2009

Warkah tiada cerita

warkah tiada cerita

Kenapa masih ada air mata yang menitis
Tatkala wajah bahagia hadiri hari
Mengapa masih menangis
Tatkala cerita lama sudah terkubur sepi

Mengapa ada manusia
Masih mahu tegakkan yang hina
Palit arang pada yang satu
Biar hanya dia menanggung malu

Darah daging bukan lagi pertalian
Darah daging itu sumpahan penghinaan
Melihat wajah-wajah air mata sepi itu
Melihat genang air mata sayu itu
Melihat noktah dalam luas jalan
Melihat awan dalam hujan

-Minmdnor 27 Aug 2009

Read more...

Monday, August 24, 2009

Sajak Tanpa Nama

Daripada seseorang; putih pasir di pantai Kerteh - 8 April 1988

Dinihari dalam hembus bayu
Malam sejuk membeku
Ada hati tanpa pinta
Berlagu rindu
Nadanya sayu

Sesekali sepoi angin menjerit
Gegarkan purnama di langit
Sesekali pula debur ombak melaung
Gugurkan bintang di angkasa
Selerak kemilau
Jatuh bersinar
Bagai butiran permata di pasir
Dan buih-buih kembali bernyanyi
Lalu tanpa pinta berkata
Mencorak rasanya...
Dengarkan wahai si jiwa
Kau adalah butir-butir halus di pantai
Dan akulah buih-buih sepi yang mendamaikan...
Berdendang...
Dalam rangkap-rangkap rindu
Dalam bait-bait syahdu
Di sini...
Bersama sajak tanpa nama




Biskutz Rangup : Isnin, 24 Ogos 2009

Read more...

Saturday, August 22, 2009

Mentari & Awan

Jika dia adalah mentari
Dan kau adalah sang awan
Lantas siapakah aku?
Bagi diri mu
Kerdip-kerdip sinar?
Titis-titis hujan?
Atau dentuman halilintar?
Menyilaukan
Menyejukkan
Membingitkan
Tika malam runtuh menebarkan gelita
Di sangkut bintang-bintang dan bulan
Ke dinding rasa
Mentari cuba bersuara
Dari sayu wajah purnama
Dan awan masih berjaga
Seperti setia adanya
Lantas siapakah aku kini?
Bagi diri mu
Jika kau adalah mentari
Dan dia adalah sang awan
Akulah bayang-bayang mu
Terbit dari rasa
Terbit dari suka
Terbit dari cinta
Mengekori mu jika kau ada
Pergi jauh tika kau hilang
Datang kembali
Tegar aku
Masih mengekori
Bagai jantung berdenyut
Bagai nadi berdetik
Bagai darah mengalir
Jika kau adalah mentari, ayah ku
Dan kepulan awan itu, ibu ku
Aku lah sang bayang, anak mu
Sentiasa di bawah telapak mu
Mengekori selalu
Tika ada, tika tiada
Hati rindu masih bernyala


Note: Salam ramadan untuk semua yang sudi membaca, jangan lupa doa pertama mu tika ramadan tiba... hulurkan kepada kedua ibubapa, samada masih mereka ada atau telah pun tiada... Semoga mereka diangkat Allah ke tempat yang terbaik di sisiNya. Insya-Allah.




Biskutz Rangup : Sabtu, 8 Ogos 2009

Read more...

Friday, August 21, 2009

SAJAK PERAWAN GERING

Tampuk nurani menelan tenteram
Merindui tiap titipan akhir kecundang
Aku telan
Begitu juga dia kiranya

Apakah telah terhindar
Berjuta macam kengiluan disegenap liang roma
Di seper tiga setiap malam dia teresak
Adakah pernah dia kira aku juga begitu

Lalu aku terus menelaah
Kitab-kitab usang perjalanan waktu
Bermusuhan dengan hati sendiri
Mengingkari setiap fakta yang selamanya rahsia

Inilah saat dimana aku pasti
Ketika aku menulis – Sajak Perawan Gering
Matahari hangus terbakar kerana air matanya
Gunung bergoncang dipalu sedunya
Bumi merekah mendengar alasannya
Kering air lautan dek rintihannya
Langit hitam tercemar wajahnya
Itu lah dia wajah perawan gering
Tidak mampu dibenci
Dan bukan hak aku melaksanakan hukum
Yang nyata aku telah tiada
Dikunyah menjadi ubat perawan gering

Apakah kini tujuan harus dilipat-lipat
Dikirimkan diperjauhan pelusuk
Kini yang memakai wangian kebebasan
Kini yang melihatkan setiap cahaya jalanan
Tentu saja terdapat bentuk-bentuk halangan
Tetapi kini itu lebih menjanjikan keberlangsungan
Dan kini itu yang terus tersenyum mengerti

Disatu ketika dulu
Betapa luluh mendengar derita ditanggungnya
Disetiap sesi-sesi malam bagai mimpi ngeri didalam sedar
Dan dadah yang tiada banyak membantu
Adakah semua itu benar?
Sekali pun hanya jajaan, aku hamparkan kepercayaan
Disetiap belahan dan jahitan
Wujudkah parut-parut yang mampu bercerita?
Atau mampukah cerita itu untuk dipercayai?

Dan seiring seretan langkah
Persoalan membentuk lingkaran muram
Berkemampuan menelan segala sifatnya
Tiadalah ertinya disetiap yang telah dia nyatakan
Bila nafi terus berlingkar sarang diruang kepercayaan
Aku yang bersifat lupus
Hanya bersandar rehat menikmati pandangan
Semoga kau terhapus gering wahai perawan…

-catatan John si ‘orang gila’-
-1424 Ogos 20, 2009, wilayah separa sedar-

Read more...

Menjelang Ramadhan 1430

Tuhan
kami di sini di pantai ini mencari ramadhanMU
dengan rukhyah hilal seperti yang kau tetapkan untuk kami
kerna mungkin Kau batalkan hisab
terkaan-terkaan ilmu yang seluruhnya dalam arashMU

Tuhan
andai tidak Kauizinkan
hari ini (kau betulkan hisab kami)
pohonlah esok kami temui jua
magfirahMU
ampunanMU
dan rahmatMU
yang sangat kami damba

Tuhan
Tuhan
Oo Tuhan
Kau ciptakan kami
Kau cucuri rahmatMU
kami syukur jadi hambaMU
dapat imarahkan ramadhan bulan ciptaanMU
seperenggan waktu cuma dalam rangkap hidup kami

Ooo Tuhan

fauzirashid

(bulan tak nampak. puasa pada hari sabtu 21.8.09)
20.8.09

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP